Banyak orang yang menganggap bahwa aku terlalu memaksakan diriku untuk bekerja keras. Mereka menaruh perhatian dengan mencoba mengkhawatirkan ku, bagaimana aku bisa menikmati hidup, apa yang kau harapkan dengan gaji yang besar sedangkan kau sendiri masih single dan sebagainya. Namun, itu semua cukup aku balas dengan senyuman simpul dan candaan. Mereka pun tak mau tahu, betapa besar rindu yang menyesakkan dada ini setiap hari. Rindu akan merasakan setiap jengkal kasih sayang, rindu akan dikhawatirkan, rindu akan diomelinya setiap hari oleh kedua orang tuaku. Kadang kala, aku sempat berfikir, kenapa harus aku yang merasakan ini, kenapa Tuhan pilih aku, sedang aku bukan orang yang menarik, tak pandai dan tak ada bandingan yang lebih baik untuk dibandingkan. Namun kemudian seiring berjalannya waktu, aku tersadar, bahwa setiap orang ditakdirkan untuk memiliki hidupnya dengan garis nasib masing-masing. Of course, there's something incredible after all of these. Bersyukurnya aku, Tuhan memilih untuk menciptakanku di tengah-tengah keluarga yang memiliki cinta kasih dan sayang menurut kaidah-kaidah agama kami. Sehingga, ketika aku merasakan kepedihan, aku kembali padaNya. Bahwa tiada tempat terbaik untuk mengadu selain hanya kepadaNya. Aku pun jatuh, diremehkan, tak dianggap, namun satu hal kekuatan, seperti sebuah novel kesukaanku, pilihan tema skripsiku juga hehe, A Thousand Splendid Suns, bahwa satu-satunya kekuatan yang dimiliki oleh seorang wanita adalah Tahamul yaitu bertahan. Bukannya aku bekerja untuk meraih banyak uang, namun aku bertahan untuk tetap bisa mengalahkan anggapan-anggapan mereka selama ini. Sesungguhnya aku pun banyak menaruh doa agar suatu saat kelak Tuhan menggantikannya dengan hal yang indah. Bapak, Ibu, meski aku bukan anakmu yang pandai, namun insya Allah aku akan selalu berusaha membuat kubur kalian damai dan senantiasa diampuni. Istighfar anakmu adalah Istighfar untukmu wahai orang tua. Dariku yang selalu menggantungkan setiap angan dan harapan untuk sedikitnya menjadi kenyataan..
Azky....